Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget HTML #1

Advertisement
Advertisement

Pengertian Selapanan dalam tradisi Masyarakat Jawa

Sakmadyone.com, Pengertian Selapanan dalam tradisi Masyarakat Jawa - Di dalam tradisi Masyarakat Jawa, ada beberapa jenis macam Slametan atau Bancaan. Pada kesempatan kali ini, admin akan membagikan artikel tentang Adat Selapanan Bayi dalam bahasa jawa.

Sebelum berlanjut, apakah kalian tahu arti dari selapanan itu sendiri? Jadi didalam masyarakat jawa atau adat jawa itu ada sebutan-sebutan untuk perhitungan hari, misalnya, sepasar, sesasi, selapan, pendak siji, pendak loro dan masih ada beberapa lagi.

Sepasar atau sepasaran yaiku 5 hari, sesasi 30 hari, selapan yaiku 35 hari, pendak siji yaiku satu tahun, pendak loro dua tahun.

Perhitungannya dilakukan dengan menggunakan kalender jawa tentunya. Dalam hitungan minggu ada 7 hari ( senin-minggu ), sedangkan dalam hitungan pasar ada 5 hari ( pon, wage, kliwon, legi, pahing ).

Arti dari Selapanan dalam Bahasa Jawa 

Perhitungan selapanan diambil dari perkalian antara 7 dan 5 yang hasilnya 35. Pada hari ke 35 tersebut kedapatan pertemuan angka kelipatan antara tujuh dan lima. Pada hari itu juga, hari weton bayi waktu lahir akan juga terulang. Misal, bila sang bayi lahir pada Seloso Pon, maka selapanannya (35hari) pun akan jatuh pada hari dan pasaran yang sama, yakni Seloso Pon.

Selapanan bayi ini merupakan bentuk rasa syukur atas berkat dan keselamatan bayi yang diberikan oleh Tuhan YME. Pada upacara selapanan ini, rambut dan kuku bayi akan dipotong. 

Dalam Primbon Jawa, ada hal-hal yang harus dipatuhi dalam pelaksanaan upacara selapanan ini, yaitu keyakinan jika potongan rambut dan kuku bayi bersamaan dengan tali pusar maka nantinya bisa dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.



Syarat makanan dalam acara Selapanan

  1. Tumpeng Weton
  2. Sayuran 7 jenis, yaitu bayam, kacang panjang dan lima jenis sayuran bebas. Penggunaan kacang panjang sendiri memiliki makna yaitu sebagai harapan agar Bayi panjang umur
  3. Telur ayam rebus dan sudah dikupas. Jumlahnya 7, 11 atau 17
  4. Urap. Karena ini untuk bancaan weton bayi, maka bumbu urap tidak pedas.
  5. Buah-buahan sebanyak 7 jenis, salah satunya pisang rojo
  6. Cabai dan bawang merah
  7. Saringan santen yang terbuat dari bambu
  8. Kembang setaman ( mawar merah, mawar putih, melati, kantil dan kenanga )

Jumlah atau jenis makanan yang di sajikan dalam bancakan selapanan merupakan angka ganjil, karena angka ganjil sendiri di percaya sebagai angka keberuntungan. Kepercayaan angka ganjil ini juga muncul pada jumlah orang yang mengkonsumsi bancakan tersebut.

Masyarakat Jawa mempercayai bahwa bancakan ini sebaiknya di konsumsi oleh minimal tujuh orang, sebelas, tujuhbelas atau lebih banyak lagi. Angka tujuh merupakan harapan agar mendapatkan pitulungan (pertolongan) dari Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan angka sebelas  (sewelas) merupakan harapan agar mendapatkan kawelasan belas kasih dari Tuhan Yang Maha Esa dan seterusnya. 

Dalam artikel selapanan dalam bahasa jawa ini, hal tersebut merupakan salah satu nilai adat budaya Jawa yang masih sangat kental dan juga penuh dengan makna filosofi yang sebaiknya tidak ditinggalkan.

Baca Juga: Ucapan Ulang Tahun Bahasa Jawa Halus

Advertisement
Advertisement

Related : Hukum Asuransi Menurut Islam ( insurance and islamic law )